Bencana yang Masih Berlangsung: Banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat
Apa jadanya jika hujan deras tiba-tiba memicu banjir yang menghancurkan rumah, mengubur jembatan, dan menggoyahkan kehidupan sehari-hari? Tahun 2025, masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengalami krisis serupa. Banjir bandang yang terjadi di tiga wilayah ini, hingga 3 Desember 2025, belum ditetapkan sebagai bencana nasional. BNPB melaporkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 753 orang, 650 orang hilang, dan 2.600 orang terluka. Bahkan, jumlah pengungsi mencapai 576.300 orang. Angka-angka ini membuat publik bertanya-tanya, mengapa bencana besar ini belum mendapat status nasional? Ternyata, ada kriteria yang menjadi dasar penentuan status ini.
Bagaimana Pemerintah Menentukan Bencana Nasional?
Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, status bencana nasional ditentukan berdasarkan kemampuan pemerintah daerah dalam mengatasi situasi. Jika dampaknya melampaui kapasitas lokal, maka pemerintah pusat harus terlibat. Tapi, apakah bencana seperti banjir bandang ini bisa dianggap layak untuk status nasional? Kita akan menelusuri riwayat tiga peristiwa yang sebelumnya berhasil mendapat pengakuan itu.
“Penetapan status bencana nasional merupakan wewenang pemerintah pusat yang didasarkan pada besarnya dampak dan kemampuan pemerintah daerah dalam menangani situasi.”
– BNPB
Analisis dari BNPB menunjukkan bahwa keputusan status bencana nasional bukan hanya tentang jumlah korban, tapi juga kerusakan prasarana, luas wilayah yang terkena, serta dampak sosial dan ekonomi. Bencana seperti banjir bandang di Sumatra, meski merugikan banyak orang, mungkin belum cukup untuk dipertimbangkan sebagai bencana nasional. Tapi, bagaimana dengan kejadian luar biasa di masa lalu?
Episode Pertama: Gempa dan Tsunami Flores 1992
Tahun 1992 menjadi momen trauma bagi warga Flores, NTT. Saat itu, gempa berkekuatan 7,8 skala Richter mengguncang bumi, lalu mengubah daratan menjadi lautan. Menurut BNPB, peristiwa ini memicu tsunami yang menerjang pesisir Flores, menggugah kehidupan sekitar 2000 orang. Sementara ribuan lainnya terluka, puluhan ribu kehilangan tempat tinggal.
Bencana yang Menjadi Peringatan Awal
Tsunami Flores menunjukkan betapa cepatnya bumi bisa berubah menjadi musuh. Dalam waktu singkat, kota kecil yang dikenal damai berubah menjadi tempat perjuangan keluarga dan komunitas. Kekuatan gempa yang mencapai 7,8 skala Richter menjadi indikator utama, mengapa pemerintah menetapkan status bencana nasional. Keppres Nomor 66 Tahun 1992 menjadi awal dari peringatan bencana yang lebih besar.
Episode Terbesar: Tsunami Aceh 2004
Tsunami Aceh 2004 adalah salah satu bencana paling memilukan dalam sejarah Indonesia. Saat itu, gempa berkekuatan 9,1-9,3 skala Richter di Samudra Hindia mengirimkan gelombang tsunami yang menghancurkan sejumlah besar kawasan. Menurut BNPB, peristiwa ini menyebabkan lebih dari 230.000 korban jiwa di seluruh dunia, dengan Indonesia menjadi salah satu wilayah terparah.
Katakanlah, Bumi Telah Berbicara
Katakanlah, bumi berbicara lewat gempa dan tsunami. Tapi, bencana ini tidak hanya mengguncang Aceh, melainkan juga merenggut nyawa di negara-negara lain. Kekuatan gempa yang luar biasa ini membuat tsunami menerjang seperti serangan musuh tak terduga. Dalam waktu kurang dari satu jam, ribuan rumah luluh, kehidupan terhenti, dan kekacauan menghiasi pesisir. Pemerintah melalui Keppres Nomor 112 Tahun 2004 memberikan status nasional, sambil juga menetapkan Hari Berkabung Nasional sebagai pengingat.
Episode Modern: Pandemi Covid-19 2020
Pandemi virus corona memulai perjalannya di tahun 2020, dengan dampak yang melampaui batas geografis. Sementara gempa dan tsunami adalah bencana alam, pandemi ini adalah ancaman non-fisik yang mengubah cara hidup manusia. Menurut BNPB, dampaknya menjangkau hampir seluruh dunia, dengan 230.000 korban jiwa.
Bencana yang Menyentuh Setiap Orang
Korban meninggal di Indonesia mencapai angka yang mengguncang. Tapi, itu bukan hanya jumlah tubuh yang jatuh, tapi juga kehilangan pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan. Pandemi ini menjadi bencana nasional pertama dalam abad ini, mengingat dampaknya menjangkau sektor ekonomi dan sosial. Proses penetapan bencana nasional ini menunjukkan betapa pentingnya adaptasi terhadap perubahan global. Kini, bencana di Sumatra memicu pertanyaan, apakah Indonesia siap menghadapi kejadian serupa di masa depan?
Kesimpulannya, status bencana nasional bukan hanya tentang kekuatan alam, tapi juga kemampuan manusia untuk merespons. Ketiga peristiwa ini—Flores 1992, Aceh 2004, dan Covid-19 2020—menjadi cerminan bagaimana Indonesia menghadapi tantangan besar. Mungkin, banjir bandang di Sumatra saat ini bisa menjadi penantang baru untuk mendapat status yang sama. Kita bisa melihatnya sebagai pelajaran, bahwa bencana tidak hanya datang dari bumi, tapi juga dari berbagai sumber tak terduga. Apakah kalian berpikir, Indonesia akan lebih siap dalam waktu dekat?