Menjelang Tahun ke-61, Golkar dan NasDem Jadi Tuan Rumah Kebangkitan Koalisi
Pada acara ulang tahun Partai Golkar yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, sebuah usulan yang mengejutkan muncul dari arah yang tak terduga. Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, tiba-tiba mengusulkan pembentukan koalisi permanen di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Usulan ini seperti ledakan politik di tengah atmosfer yang terasa kaku, mengingat kondisi ekonomi dan sosial masih memprihatinkan. Namun, bukan hanya Bahlil yang memperhatikan: bendahara umum NasDem, Ahmad Sahroni, langsung memberikan respon yang memenuhi harapan.
“Ini usulan yang sangat baik,”
katanya, menjawab pertanyaan dari media.
Bahlil: Membangun Koalisi yang Tidak Pecah Pecah
Usulan Bahlil bukan sekadar saran politik biasa. Dalam pidatonya di mimbar utama, ia mengungkapkan bahwa koalisi harus menjadi
“kerangka yang kuat”
untuk menghadapi tantangan pemerintahan.
“Jangan koalisi in-out, jangan koalisi di sana senang di sini senang di mana-mana hatiku senang,”
ujarnya, menyoroti kebutuhan stabilitas dalam kolaborasi. Ini bukan sekadar retorika: Bahlil ingin memastikan partai-partai yang berada di pemerintahan tetap solid, tidak mudah berpindah tangan. Baginya, koalisi bukan hanya tentang dukungan, tapi juga komitmen yang membara.
“Bahwa NasDem mendukung penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sampai akhir masa jabatan, itu perintah Ketua Umum NasDem kepada kami di seluruh Indonesia,”
ucap Sahroni, menjelaskan arahan dari Surya Paloh.
Dengan kata-kata Sahroni, keputusan NasDem untuk tetap bersama Prabowo terasa seperti sinyal kuat. Tidak hanya itu, bendahara umum ini juga memastikan bahwa partainya akan
“terus mendukung”
pemerintahan hingga akhir.
“Kita harus punya prinsip yang kuat,”
lanjut Bahlil dalam pidatonya, mengingatkan bahwa koalisi perlu menghadapi kegagalan bersama dan menikmati keberhasilan bersama. Ini adalah pandangan yang unik: koalisi bukan hanya sebagai alat, tapi juga sebagai identitas politik.
Konteks: PKS dan Tantangan Koalisi di Tengah Kebutuhan Reformasi
Usulan Bahlil muncul di tengah debat besar tentang kekuatan koalisi dalam menghadapi krisis ekonomi dan isu korupsi. PKS, salah satu partai yang selama ini menjadi pihak kritis, mengkritik langkah ini.
“Kurang tepat jika dibahas di tengah bencana,”
tulis mereka, mengingat ketidakstabilan ekonomi masih menjadi beban masyarakat. Tapi Bahlil tak mempedulikan kritik. Ia yakin, koalisi permanen adalah jalan untuk memperkuat kekuasaan dan kepercayaan publik.
Dalam dunia politik, sebuah usulan seperti ini bisa berdampak besar. Jika diterima, koalisi Golkar-NasDem akan menjadi tulang punggung pemerintahan Prabowo-Gibran, mungkin bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Tapi pertanyaannya adalah: apakah partai lain akan mengikuti jejak mereka? Atau, justru ini akan menjadi awal dari persaingan koalisi yang lebih intens? Yang jelas, acara HUT Partai Golkar memicu perubahan alur politik yang tak terduga. Dan itu, mungkin, adalah bagian dari cerita besar yang sedang berjalan.