Kasus Korupsi Bekasi: Kekeluargaan yang Terungkap dan Ijon Rp9,5 Miliar
Kasus korupsi yang selama ini diselimuti misteri akhirnya terbongkar, membuat warga Bekasi terkejut dan bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi di balik jabatan Bupati Ade Kuswara Kunang?” Simak kisahnya di bawah ini, yang mengungkap permainan kekuasaan dan kepentingan keluarga di tengah pemerintahan daerah.
Latar Belakang dan Proses Penyelidikan
Kasus ini dimulai saat Ade Kuswara Kunang terpilih menjadi Bupati Bekasi periode 2025-2030. Sejak hari pertama menjabat, ada indikasi kejanggalan. Seorang penyedia paket proyek, Sarjan, ternyata menjadi korban kebijakan “ijon” yang dijajaki Ade Kuswara. “Dalam rentang satu tahun terakhir sejak Desember 2024-Desember 2025, ADK rutin meminta ‘ijon’ paket proyek kepada SRJ,” kata Asep Guntur Rahayu, Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih.
“Dalam rentang satu tahun terakhir sejak Desember 2024-Desember 2025, ADK rutin meminta ‘ijon’ paket proyek kepada SRJ,”
Kutipan Asep ini mengungkap pola korupsi yang terstruktur, dengan Ade Kuswara diduga meminta uang secara berulang. Ternyata, sang ayah, HM Kunang, juga terlibat dalam skandal ini. Tidak hanya sebagai penyuap, HM Kunang berperan sebagai perantara yang mungkin jauh lebih tersembunyi dari mata publik.
Peran HM Kunang yang Menyentuh
HM Kunang, kepala desa Sukadami, menjadi figur yang tak terduga. Ia bukan hanya menerima uang dari Sarjan, tetapi juga meminta langsung kepada SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi. “Beliau jabatannya memang kepala desa, tetapi yang bersangkutan itu adalah orang tua atau bapaknya dari bupati. Jadi, seperti itu perannya, kadang meminta sendiri, dan kadang juga menjadi perantara orang yang akan memberikan (uang) kepada ADK,” jelas Asep.
“HMK itu perannya sebagai perantara. Jadi, ketika SRJ ini diminta (uang suap), HMK juga minta. Kadang-kadang tanpa pengetahuan dari ADK, HMK itu minta sendiri gitu,”
Kutipan Asep ini menggambarkan bagaimana kekuasaan keluarga bisa mengalir dari desa ke kabupaten. HM Kunang, dengan posisinya yang dekat dengan masyarakat, justru menjadi jembatan antara penyuap dan penerima suap. Pertanyaan retoris muncul: Apakah ada hubungan keluarga yang melibatkan dua generasi dalam korupsi ini?
Impak dan Konteks yang Lebih Luas
Kasus ini lebih dari sekadar uang. Ia memicu kecurigaan bahwa hubungan kekerabatan menjadi alat untuk menutupi kejahatan tindak pidana korupsi. “Mungkin karena orang melihat bahwa yang bersangkutan ada hubungan keluarga gitu kan ya. Jadi, bisa melalui HMK. Orang juga pendekatan melalui HMK, seperti itu,” tambah Asep. KPK mengungkap bahwa skema ini menunjukkan kelemahan sistem pengawasan di daerah.
“Total ‘ijon’ yang diberikan oleh SRJ kepada ADK bersama-sama HMK mencapai Rp 9,5 miliar,”
Total uang suap yang terungkap, Rp 9,5 miliar, menjadi bukti nyata bagaimana korupsi bisa berjalan tersembunyi. Tapi yang menarik, Ade Kuswara justru langsung meminta maaf setelah ditetapkan sebagai tersangka. “Saya mohon maaf untuk warga Bekasi,” ujarnya. Apakah pengakuan ini bisa memulihkan reputasinya, atau justru memperkuat dugaan bahwa kasus ini adalah bagian dari permainan besar?
Kasus ini memperlihatkan bahwa kekuasaan yang terpusat dalam keluarga bisa menjadi penyebab utama korupsi. Dengan adanya HM Kunang sebagai perantara, jaringan suap terlihat lebih rumit dan menantang. KPK pun mengingatkan bahwa penegakan hukum tidak hanya mengejar pelaku utama, tetapi juga menelusuri akar kekeluargaan yang mungkin menjadi titik lemah sistem pemerintahan daerah.