Bencana Banjir yang Menghancurkan
Nah, siang hari yang biasa di Kampung Babakan, Desa Cidadap, Sukabumi, tiba-tiba dihiasi oleh isak tangis yang menggema. Air mengalir deras dari Sungai Cidadap, seperti ribuan mahluk berbahaya yang ingin menghancurkan segalanya. Banjir bandang ini tak hanya menghanyutkan rumah-rumah, tapi juga mengubur harapan, meninggalkan jejak trauma yang tak mudah hilang. Warga yang sempat menikmati kenyamanan rumah tangga kini terpaksa berlarian, dengan kaki basah dan rasa takut yang masih menggigit. Bagaimana bisa air tiba begitu cepat? Ternyata, cuaca ekstrem yang telah diperingatkan jauh sebelumnya akhirnya mengambil alih.
Kisah Tragedi di Rumah Siti
Siti Nurlela, seorang remaja 18 tahun, masih terdiam di pengungsian, menatap kaca jendela yang hancur. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya hampir tak terdengar.
“Kondisi rumah saya sendiri sudah hanyut habis, hanya tersisa keramiknya saja,”
katanya lirih. Rumah yang cukup jauh dari bibir sungai tetap tak mampu menahan kekuatan arus yang menggerogoti. Puluhan meter jauhnya, bangunan itu akhirnya lenyap, seperti terkena sihir malam. Tak ada barang yang bisa diselamatkan, termasuk keberadaan ibunya yang berusaha mencari jalan keluar saat air mulai menjangkau perut. Bagaimana bisa seorang ibu harus mendobrak kaca jendela untuk menyelamatkan diri?
“Waktu kejadian, Ibu saya sendiri di rumah, beliau menyelamatkan diri dengan mendobrak kaca jendela saat air sudah setinggi perut,”
Kutipan Siti ini menggambarkan betapa cepatnya bencana bisa mengubah kehidupan. Dalam hitungan menit, kenyamanan rumah menjadi ranah berbahaya. Warga yang terjebak di dalam, sekarang hanya bisa bertahan di tenda darurat atau gedung sekolah, menunggu waktu yang tak kunjung datang. Tapi, jangan salah, mereka tetap berharap—berharap ada kekuatan yang bisa menangani keadaan darurat, lalu mengembalikan kehidupan yang hampir hilang.
Upaya Pemulihan dan Harapan Masa Depan
Deden Antanurman, Kepala Desa Cidadap, menjelaskan bahwa banjir ini menimpa hampir seluruh wilayah desa. Data sementara menunjukkan 164 Kepala Keluarga (KK) terdampak, dengan puluhan rumah rusak parah hingga hilang.
“Yang paling parah tahun ini di Kampung Sawah Tengah, ada belasan rumah rusak dan hanyut,”
ujarnya. Bukan hanya rumah, tapi juga jembatan utama yang hancur, membuat warga terisolasi selama dua hari. Saat ini, bantuan dari Dinsos, BPBD, dan Basarnas sudah mulai mengalir, tapi ada yang lebih penting: relokasi. Tapi, itu baru bisa direncanakan setelah bencana ini diatasi.
“Saya datang memastikan logistik, kesehatan, dan tempat tidur pengungsi tertangani. Soal relokasi, data sedang kami himpun. Intinya kita tangani dulu keadaan darurat saat ini, setelah itu baru kita pikirkan langkah pascabencana,”
Kata-kata Andreas, Wakil Bupati Sukabumi, mengingatkan kita bahwa bencana tidak bisa dihindari, tapi bisa dikurangi dampaknya. Ia pun menekankan pentingnya kesiapsiagaan, sejak tingkat Camat hingga Desa. Tapi, bagaimana jika bencana ini terjadi saat masa libur sekolah? Seolah langit memberi jeda, kegiatan belajar mengajar tak terganggu karena pembelajaran berlangsung hingga Januari. Warga yang kini bertahan di tenda dan sekolah, bisa menyelamatkan diri sementara waktu, tapi kebutuhan hidup tetap menjadi prioritas.
Sinyal Harapan dari Pemerintah
Di tengah kehancuran, ada sinar harapan. Pemerintah bergerak cepat, mengirimkan bantuan logistik dan tempat tidur untuk para pengungsi. Tapi, tidak semua bisa diselamatkan. Siti dan keluarganya sudah mengungsi selama empat hari, dengan harapan ada rumah sementara atau relokasi yang lebih permanen.
“Kami sangat berharap bantuan untuk rumah sementara atau relokasi,”
ungkapnya. Ketika bencana menerjang, yang paling berat adalah kehilangan fisik—tapi juga trauma psikologis yang menyelimuti setiap warga. Mereka tak hanya kehilangan rumah, tapi juga kenangan, keselamatan, dan kepercayaan pada musim hujan yang seharusnya aman.
Yang menarik, bencana ini justru memperlihatkan kekuatan manusia. Meski mengalami kerugian besar, warga tetap bertahan, saling membantu, dan menunggu bantuan. Bagaimana bencana bisa menjadi ujian bagi sebuah komunitas? Ternyata, kekompakan dan harapan bisa mengembalikan rasa percaya pada masa depan. Semoga, dari kisah ini kita belajar: siapkan diri, karena bencana tak hanya datang dari langit, tapi juga dari dalam hati kita sendiri.