Konflik Nama dan Kepribadian: Trump Menyematkan Namanya di Kennedy Center
Nah, siapa sangka seorang presiden yang dianggap memiliki kepribadian kuat justru memicu kontroversi hanya karena mengubah nama sebuah gedung? Donald Trump, yang dikenal tidak suka bermain aman, kembali membuat gelombang dengan merubah nama Kennedy Arts Center menjadi ‘Trump-Kennedy Center’ di Washington, AS. Tindakan ini seolah memperlihatkan sisi paling berani dari sang mantan presiden, tapi bagaimana kalau keberaniannya justru memicu kemarahan keluarga sang pendiri?
Perubahan Nama yang Menghebohkan
Keputusan Trump untuk mengganti nama gedung seni megah tersebut jelas mengejutkan banyak pihak. Kennedy Center, yang sebelumnya terkenal sebagai monumen keagungan untuk Presiden John F. Kennedy, kini mengenakan nama dua tokoh sekaligus. Tapi apakah ini sekadar tindakan pemasaran atau sesuatu yang lebih dalam? Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, keputusan itu diambil setelah dewan Kennedy Center menyetujui langkah ‘luar biasa’ untuk menghormati ‘kerja luar biasa’ Trump dalam menyelamatkan gedung tersebut.
“Selamat kepada Presiden Donald J. Trump, dan juga, selamat kepada Presiden Kennedy, karena ini akan menjadi tim yang benar-benar hebat untuk masa depan!”
Kutipan Leavitt itu seolah menggambarkan optimisme yang mengalir dari pihak eksekutif, tapi keberatan dari keluarga Kennedy justru memperlihatkan kekhawatiran akan kelangsungan nilai sejarah. Mereka menganggap perubahan nama ini adalah ‘keputusan sangat gila’ yang tidak adil, karena nama Kennedy sudah tersemat dalam undang-undang federal sejak 1958.
Kritik dari Keluarga Kennedy
Yang menarik, keponakan JFK, Maria Shriver, langsung buka suara.
“Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di sini? Ayolah, sesama warga Amerika! Sadarlah!”
serunya dalam wawancara. Dari sisi sejarah, Kennedy Center bukan sekadar bangunan—ini adalah penghargaan terhadap pahlawan nasional yang gugur dalam tragedi pembunuhan tahun 1963. Bagaimana mungkin nama paman buyutnya bisa diganti tanpa izin Kongres? Joe Kennedy III, mantan anggota Kongres, menyebut bahwa keputusan ini mirip dengan mengganti nama Monumen Lincoln, yang punya makna khusus.
“Tidak mungkin diganti namanya seperti halnya Monumen Lincoln, apa pun yang dikatakan orang.”
Kritik dari keluarga Kennedy justru memperkuat argumen bahwa perubahan nama ini bukan sekadar ‘nama’—tapi simbol yang mencerminkan prioritas politik Trump. Apakah ini mengisyaratkan bahwa kekuasaan eksekutif lebih dulu dibandingkan kehormatan sejarah? Pertanyaan itu tentu masih menghangatkan pembicaraan hingga hari ini.
Implikasi Lebih Luas: Dari Nama Gedung hingga Kebijakan Global
Tapi ini bukan kali pertama Trump menimbulkan kontroversi dengan tindakan yang mengejutkan. Dalam beberapa hari terakhir, ia juga mengklaim tidak membutuhkan persetujuan Kongres untuk menyerang Venezuela. Sementara itu, AS kembali menyetujui penjualan senjata terbesar ke Taiwan, yang dianggap sebagai langkah strategis dalam konflik geopolitik. Jika mengubah nama Kennedy Center adalah bagian dari ‘kehebohan’ Trump, lalu bagaimana dengan langkah-langkahnya yang memengaruhi hubungan internasional?
Yang jelas, keputusan Trump ini mencerminkan semangat yang sama: membangun identitas dan kekuasaan pribadi dalam dunia yang sering dianggap membosankan. Meski kritik datang dari berbagai arah, ia tetap menyatakan rasa hormat terhadap keputusan itu.
“Saya terkejut, saya merasa terhormat,”
kata Trump, mencoba menutupi kekacauan yang mungkin terjadi di balik rencana besar ini.