Presiden Amerika Terkenal: Mengubah Nama Monumen Sejarah Jadi Kehormatan Pribadi?
Nah, siapa sangka seorang presiden yang dikenal dengan ambisi besar dan keputusan kontroversial kembali menciptakan gelombang perdebatan dengan cara yang tak terduga? Trump, yang sebelumnya sudah memperoleh cukup banyak kontroversi karena berbagai kebijakan di bidang ekonomi dan politik, kini kembali menjadi pusat perhatian dengan tindakan mengubah nama Kennedy Center yang bersejarah. Tapi, apakah ini hanya sekadar perubahan nama, atau tanda awal dari gelombang kebijakan baru yang akan mengubah paradigma seni di Amerika? Pertanyaan ini langsung mengemuka setelah pengumuman terbaru Trump.
Sekitar Kennedy Center yang Terkenal
Kennedy Center adalah sebuah monumen seni megah yang terletak di tepi Sungai Potomac, Washington, AS. Dibangun pada 1971, tempat ini dianggap sebagai salah satu simbol budaya terpenting di Amerika, yang diabadikan nama mantan Presiden John F. Kennedy—sosok yang dikenang sebagai pendiri reformasi politik dan perjuangan anti-komunis. Tapi, tiba-tiba pada Desember 2025, Trump mengambil alih nama tersebut dan mengubahnya menjadi ‘Trump-Kennedy Center’. Tindakan ini langsung memicu reaksi pedas dari keluarga Kennedy yang merasa nama paman mereka dijadikan alat pribadi.
“Saya terkejut, saya merasa terhormat,”
kata Trump kepada wartawan setelah pengumuman perubahan nama gedung tersebut sebagaimana dilansir AFP, Jumat (19/12/2025).
Wah, terdengar bagus, bukan? Tapi bagi keluarga Kennedy, perubahan nama ini bukan hanya sekadar tindakan pribadi. Mereka menganggap keputusan Trump sebagai
“keputusan sangat gila”
yang menggantikan nama John F. Kennedy dengan nama keponakannya sendiri, Joe Kennedy III.
“Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di sini? Ayolah, sesama warga Amerika! Sadarlah!”
sergah Maria Shriver, keponakan JFK. Perubahan nama ini justru mengisyaratkan kekuasaan yang berlebihan, seperti saat Trump menggodok rencana pembongkaran Sayap Timur Gedung Putih untuk membangun ruang dansa senilai USD 400 juta.
Kelompok Kennedy: Tidak Setuju dengan ‘Rebranding’ Sepenuhnya
Keluarga Kennedy memang bukan sekadar penggemar seni, tapi juga penjaga sejarah. Mereka menekankan bahwa nama ‘John F. Kennedy Center for the Performing Arts’ tercantum dalam undang-undang federal, sehingga perubahan nama harus mendapat persetujuan dari Kongres. Tapi Trump menegaskan bahwa keputusan itu diambil oleh dewan Kennedy Center yang
“sangat dihormati”
dan
“dengan suara bulat”
.
“Selamat kepada Presiden Donald J. Trump, dan juga, selamat kepada Presiden Kennedy, karena ini akan menjadi tim yang benar-benar hebat untuk masa depan!”
ujar Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih.
Yang menarik, perubahan ini bukan pertama kalinya Trump menunjukkan ketertarikannya pada rebranding. Sebelumnya, dia juga menyatakan bahwa tidak perlu persetujuan Kongres untuk menyerang Venezuela, mengisyaratkan keinginannya untuk mempercepat aksi militer tanpa melibatkan lembaga legislatif. Tapi kali ini, aksi ‘rebranding’ terhadap Kennedy Center justru memicu kecemburuan dari keluarga paman dan kakeknya sendiri.
Imbas Politik dan Budaya di Balik Nama yang Berubah
Dengan mengubah nama Kennedy Center, Trump tampaknya ingin mengabadikan jejaknya di tempat yang selama ini dianggap sebagai simbol kebanggaan Amerika. Namun, tindakan ini justru memicu pertanyaan tentang nilai sejarah dan keseimbangan antara kekuasaan eksekutif dan konsensus nasional. Bagaimana jika kisah sejarah dan identitas bangsa dirusak oleh keinginan pribadi seorang presiden? Tidak hanya itu, tindakan ini juga menjadi katalisator bagi diskusi lebih luas tentang peran monumen bersejarah dalam menyampaikan pesan politik.
Kongres memang memberikan kewenangan untuk mengganti nama monumen, seperti yang dilakukan pada 1963 untuk menghormati JFK setelah pembunuhan paman beliau. Tapi, dalam hal ini, Trump mengambil langkah yang jauh lebih ambisius. Dengan mempertahankan nama Kennedy sekaligus menambahkan nama pribadinya, dia berusaha menciptakan kesan bahwa dirinya adalah bagian dari warisan Kennedy. Tapi, apakah tindakan ini akan diterima oleh publik, atau justru memicu konflik antara generasi sejarah dan generasi politik modern?
Terlepas dari kontroversi, perubahan nama ini menunjukkan sikap Trump yang terus menerus ingin mengukir nama besar di berbagai aspek kehidupan AS. Dari rencana pembongkaran Gedung Putih hingga keinginan menyerang Venezuela, ia terus menunjukkan bahwa kekuasaan eksekutif bisa menjadi alat untuk memperluas pengaruh pribadi. Tapi, apakah kisah Kennedy Center akan menjadi tanda awal dari era baru di mana nama monumen diubah menjadi ajang propaganda politik?