detiknews
detiknews
  • Home
  • Berita
  • Jabodetabek
  • Internasional
  • Hukum
  • Kolom
  • Blak blakan
  • Pro Kontra
  • Infografis
  • Foto
  • Video
  1. Home
  2. Berita
  3. Kekhawatiran Mualem Korban Bencana Mati Kelaparan di Daerah Terisolir
Berita

Kekhawatiran Mualem Korban Bencana Mati Kelaparan di Daerah Terisolir

admin Reporter Monday, 08 December 2025 pukul 02:01 WIB 3 minutes yang lalu
0 Views 0 Komentar
Share:

Bencana Alami Aceh: Kekhawatiran Gubernur yang Tidak Pernah Pudar

Nah, bencana alam bisa membuat segalanya berubah dalam hitungan jam. Aceh, yang dikenal sebagai salah satu daerah paling rentan terhadap bencana, kembali menghadapi ujian yang mengguncang. Banjir dan longsor yang menerjang beberapa hari lalu bukan hanya merusak infrastruktur, tapi juga mengambil nyawa banyak warga. Dari ratusan rumah yang tenggelam, hingga jalan-jalan utama yang menjadi terumbu air, kehancuran terasa menyentuh setiap sudut. Tapi, ada satu kekhawatiran yang terus menggelayut di pikiran Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem: kelaparan.

Kelaparan di Daerah Terisolir: Jantung Bencana yang Tak Terlihat

Banyak orang mungkin langsung terpukau oleh gambar banjir atau reruntuhan bangunan. Tapi, Mualem mengingatkan kita bahwa bencana ini juga membawa konsekuensi yang lebih mendalam—terutama bagi masyarakat pedalaman.

“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan, mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan, itu saja,”

kata Mualem kepada wartawan, Sabtu (6/12). Laut yang menghancurkan jalan, mengubur rumah, dan membelah desa, ternyata tidak bisa menggantikan makanan pokok yang habis terbawa arus.

Kelaparan justru menjadi

“bencana kedua”

yang lebih mematikan. Mualem menjelaskan bahwa akses darat ke daerah terparah seperti Aceh Tamiang dan Aceh Timur terputus. Logistik harus dikirim melalui perahu karet, sebab jalan-jalan utama masih tergenang air dan lalu lintas kendaraan terhambat.

“Masyarakat sangat membutuhkan sembako terutama di pedalaman belum terjamah,”

ujarnya. Tapi, bagaimana bisa menyampaikan kebutuhan dasar itu jika jembatan dan jalan masih menggambarkan krisis?

“Banjir Ini Seperti Tsunami Kedua”

: Implikasi yang Menyentuh

Di tengah kekacauan itu, Mualem tidak bisa menahan rasa sedihnya. Ia menyebut bencana yang terjadi pekan lalu sebagai

“tsunami kedua”

yang menghancurkan.

“Saya pribadi melihat banjir dan longsor ini adalah tsunami kedua,”

ujarnya. Kalimat itu bukan sekadar perbandingan, tapi juga menggambarkan kecemasan terhadap masa depan Aceh. Dari Aceh Tamiang hingga Bireuen, ratusan kampung dan kecamatan mengalami kerusakan parah. Apakah ini pertanda perubahan iklim yang semakin ganas?

Mualem juga mengingatkan bahwa bencana alam ini tidak hanya menghancurkan fisik, tapi juga menyentuh jiwa masyarakat.

“Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa waswas kalau kita lihat beberapa kabupaten urgen sekali, parah sekali, lebih banyak korban jiwa,”

jelasnya. Bagi warga Aceh, ini adalah pengingat bahwa kekuatan alam bisa meruntuhkan segalanya dalam sekejap. Tapi, di balik kerusakan itu, ada harapan—setiap bencana juga membawa hikmah.

Kampung dan Kecamatan yang Tinggal Nama: Kekhawatiran yang Terus Berkembang

Menurut Mualem, beberapa kampung dan kecamatan di Aceh sudah tidak bisa disebut lagi sebagai

“tinggal nama.”

Mereka menjadi sejarah dalam satu hari.

“Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka sudah banyak korban,”

tambahnya. Kata-kata itu menyentuh, sebab itu bukan hanya tentang bangunan yang hancur, tapi juga tentang kehilangan identitas dan kehidupan.

Di Aceh Tamiang, keadaannya disebut

“sangat-sangat parah.”

“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,”

kata Mualem. Lantas, bagaimana dengan wilayah lain? Aceh Utara, Aceh Timur, dan sebagian Bireuen juga mengalami kerusakan serupa. Kebutuhan akan bantuan logistik semakin mendesak, tapi jalan pulang untuk warga yang tertimpa musibah masih terbuka lebar.

Dari semua ini, satu takeaway yang jelas: bencana alam tidak hanya menguji ketangguhan fisik, tapi juga kemampuan masyarakat dan pemerintah untuk tetap proaktif. Mualem meminta kepala desa dan semua pihak ikut bekerja sama agar bantuan bisa sampai ke tangan yang paling membutuhkan. Tapi, apakah kita siap menghadapi

“tsunami ketiga”

yang mungkin datang?

Bagikan:

Berita Terkait

Rencana Khusus: Berkaca dari Tsunami Aceh, Ini Pesan SBY untuk Pena…

25 Dec 2025

Tersangka Ngaku Baru 2 Kali Sopiri Bus Cahaya Trans – Belum Paham J…

25 Dec 2025

Agenda Utama: Pramono Umumkan Besaran UMP Jakarta 2026 Hari Ini

25 Dec 2025

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

1

Jawaban Kalem Jaksa Saat Sandra Dewi Minta Aset Dibalikin

25 Oct 2025
2

Korut Tembakkan Rudal Balistik, Pertama Sejak Juni

25 Oct 2025

Berita Terbaru

Rencana Khusus: Berkaca dari Tsunami Aceh, Ini Pesan SBY untuk Pena…

1 minggu yang lalu

Tersangka Ngaku Baru 2 Kali Sopiri Bus Cahaya Trans – Belum Paham J…

1 minggu yang lalu

Agenda Utama: Pramono Umumkan Besaran UMP Jakarta 2026 Hari Ini

1 minggu yang lalu

Agenda Utama: Prabowo Ratas di Hambalang, Bahas Pemulihan Bencana-K…

1 minggu yang lalu

Mantan Kadisdik Jambi Jadi Tersangka Korupsi DAK Rp 21,5 Miliar

1 minggu yang lalu

Kategori

  • Berita (110)
  • Internasional (6)

Tentang detikNews

Trending Post

  • Rencana Khusus: Berkaca dari Tsunami Aceh, Ini Pesan SBY untuk Pena…
  • Jawaban Kalem Jaksa Saat Sandra Dewi Minta Aset Dibalikin
  • Pemobil Tembak Mati Sopir Angkot gegara Diserobot Saat Antre di SPBU Sumsel
  • Presiden Afrika Selatan Tiba di Jakarta, Akan Bertemu Prabowo di Istana
  • Trump Sebut Korea Utara sebagai ‘Kekuatan Nuklir’, Beri Pengakuan?

Quick Links

  • Berita
  • Blak blakan
  • Foto
  • Hukum
  • Infografis
  • Internasional
  • Jabodetabek
  • Kolom
  • Pro Kontra
  • Video

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • [email protected]

© 2026 detikNews. All rights reserved.