Bencana Alam yang Mengguncang Aceh: Gubernur Mualem Bagikan Kisah Kegigihan dan Penyesalan
Ada satu kejadian yang tak terlupakan dalam sejarah Aceh—bencana alam yang datang tak terduga, menghancurkan rumah-rumah, jalan-jalan, dan bahkan kehidupan masyarakat. Nah, dalam upaya mengatasi kekacauan ini, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, menjadi tokoh yang paling sibuk mengambil inisiatif. Tapi, di balik upaya cepat dan gigih, ada kekhawatiran yang menyala-nyala—bahkan, seperti asap dari api yang tak pernah padam.
Kelaparan, Bukan Banjir, yang Jadi Penyebab Utama Kematian
Setelah banjir mengguncang Aceh beberapa hari lalu, Mualem mulai merenung. Dia menyadari bahwa jumlah korban jiwa bukan hanya karena air deras, tapi juga karena keterbatasan akses.
“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan,”
katanya kepada wartawan, Sabtu (6/12). Bukan banjir yang menjadi penyebab utama, tapi kelaparan. Dan itu, menurutnya, mengkhawatirkan.
“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan, mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan, itu saja,”
Penuturan Mualem mengingatkan kita betapa rumitnya situasi di daerah terisolir. Pasokan sembako dan air bersih jadi satu-satunya penyelamat. Namun, jalan darat yang hancur membuat logistik harus ditransportasi melalui perahu karet.
“Masyarakat sangat membutuhkan sembako terutama di pedalaman belum terjamah,”
tambahnya. Ini bukan hanya masalah distribusi bantuan, tapi juga tantangan psikologis yang menggantung rasa harapan masyarakat.
Empat Daerah Terparah: Kekacauan yang Terus Berlanjut
Dalam evaluasi, Mualem menyebutkan Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen menjadi lokasi terparah.
“Itu yang paling kita sesali lah,”
katanya. Selama ini, Aceh mungkin terbiasa dengan guncangan alam, tapi kali ini, skala kerusakan terasa lebih dalam. Banyak kampung dan kecamatan yang kini hanya tinggal nama. Bagaimana mungkin mereka bisa bangkit, jika kehidupan mereka tiba-tiba terkubur dalam tanah?
“Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa waswas kalau kita lihat beberapa kabupaten urgen sekali, parah sekali, lebih banyak korban jiwa,”
Kata-kata Mualem mencerminkan kerisauan mendalam. Ia mengakui bahwa bencana ini tidak hanya menghancurkan fisik, tapi juga menggores hati. Meski tak bisa mengubah nasib, Mualem percaya bahwa setiap bencana membawa hikmah.
“Setiap bencana ada hikmahnya,”
katanya. Tapi, hikmah apa yang bisa ia ambil, saat melihat derita yang tak terduga?
Menyamai Tsunami 2004: Keteguhan dan Kejutan
Saat melihat kehancuran di daerah terdampak, Mualem merasa seperti mengingat kembali tsunami 21 tahun lalu.
“Saya pribadi melihat banjir dan longsor ini adalah tsunami kedua,”
ujarnya. Kata-kata itu mungkin sengaja diucapkan untuk menggambarkan betapa besar kerusakan yang terjadi. Aceh Tamiang, yang menjadi kota terparah, hancur habis—dari atas sampai bawah, hingga jalan-jalan seolah berakhir di laut.
“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya,”
katanya. Masa depan kampung-kampung di sana terasa samar, seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.
Menurut Mualem, bencana alam ini memberi kesempatan bagi semua pihak untuk bergerak. Kepala desa, perusahaan, dan lembaga swadaya harus bekerja ekstra. Tapi, apakah upaya ini cukup untuk mengembalikan kehidupan yang hampir lenyap? Saat ini, justru kepedulian kita yang akan menjadi cerminan bagaimana Aceh bisa bangkit dari keterpurukan.