Aceh Terpuruk: Dari Banjir Hingga Kekhawatiran Pemimpin
Aceh, yang dikenal dengan keindahan alamnya, kini dihantam oleh bencana alam yang mengerikan. Tak hanya menghancurkan rumah-rumah warga, banjir dan longsor juga mengubah kehidupan masyarakat sehari-hari. Nah, siapa yang paling terdampak? Jika Anda berpikir bencana terjadi di wilayah paling rawan, mungkin Anda akan terkejut melihat bagaimana kondisi Aceh sekarang. Banyak warga terjebak di daerah terisolir, tak bisa mendapatkan makanan, air bersih, atau bahkan akses ke tempat pengungsian. Apakah bencana ini hanya kejadian biasa, atau mungkin menyimpan pesan yang lebih dalam?
Kekhawatiran Mualem: Bukan Banjir, Tapi Kelaparan yang Membunuh
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, tak hanya melihat kehancuran fisik, tapi juga kekhawatiran akan nyawa warganya. Dalam wawancara dengan wartawan, ia mengungkapkan bahwa kebanyakan korban meninggal bukan karena banjir, tapi karena kelaparan.
“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan, mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan, itu saja,”
katanya. Dalam pengucapan tersebut, Mualem menyoroti betapa pentingnya bantuan makanan dan air bersih bagi warga di daerah terpencil.
“Masyarakat sangat membutuhkan sembako terutama di pedalaman belum terjamah,”
tambahnya, seolah mengingatkan kita bahwa bencana bisa lebih berbahaya jika tidak disertai kecepatan respons yang tepat.
“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan, mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan, itu saja.”
Kata-kata Mualem itu seperti seruan darurat. Ia tak hanya menyampaikan kekhawatiran, tapi juga meminta semua pihak, termasuk kepala desa, untuk segera bertindak.
“Penyaluran bantuan ke daerah pedalaman sangat sulit karena tidak ada akses darat,”
jelasnya. Maka, logistik harus sampai ke pengungsi dengan cara yang tak biasa—melalui perahu karet. Ternyata, ini bukan hanya masalah fisik, tapi juga tentang keterlibatan dan kepekaan masyarakat terhadap kebutuhan sesama. Bagaimana mungkin sebuah wilayah yang biasa dianggap aman bisa berubah begitu cepat?
Kabupaten Terparah: Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara
Dari daftar daerah terdampak, Mualem menyebut Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen sebagai lokasi yang paling mengerikan.
“Bencana yang terjadi pekan lalu seperti tsunami melanda 21 tahun silam,”
katanya, dengan nada yang tak bisa dipungkiri. Ini memicu pertanyaan: apakah Aceh sedang mengalami siklus bencana yang berulang? Dalam kunjungan ke wilayah timur dan tengah, Mualem menemukan bahwa kehancuran di sana mencapai titik puncak. Tapi, ia tak lupa mengingatkan bahwa bencana selalu membawa hikmah, meski saat ini warga Aceh sedang mengalami masa pahit.
“Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa waswas kalau kita lihat beberapa kabupaten urgen sekali, parah sekali, lebih banyak korban jiwa.”
Kata-kata Mualem itu seperti pengingat: bencana alam bukan hanya mengenai bumi yang bergetar, tapi juga tentang manusia yang harus menghadapinya. Ia menyampaikan bahwa keempat kabupaten tersebut memang paling banyak mengalami korban, tapi kenyataannya, setiap daerah punya cerita sendiri.
“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,”
ujarnya. Itu adalah pengakuan yang penuh kesedihan, sekaligus kesadaran bahwa Aceh, dengan kekayaan alamnya, juga rentan terhadap ketidakstabilan yang tak terduga.
Kampung-Kampung yang Tinggal Nama: Dampak yang Membuat Hati Bergetar
Dari laporan Mualem, kita tahu bahwa banyak kampung dan kecamatan di Aceh kini hanya tinggal nama. Banjir parah yang melanda beberapa daerah membuat rumah warga hilang, terbenam di bawah lumpur.
“Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka sudah banyak korban,”
katanya. Kalimat itu seperti puisi, menggambarkan betapa mengerikan kondisi yang terjadi. Dari sekian banyak daerah terdampak, Aceh Tamiang menjadi contoh terburuk, dengan kerusakan yang tak bisa dibayangkan.
“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang.”
Kata-kata Mualem juga membawa kita merenung: apakah Aceh benar-benar siap menghadapi bencana yang bisa terjadi kapan saja? Dengan kondisi infrastruktur yang terganggu dan akses darat yang terputus, bantuan harus sampai ke warga dengan cara yang sangat kreatif. Tapi, apakah itu cukup? Dalam situasi yang membutuhkan kecepatan dan konsistensi, Mualem memberi sinyal bahwa semua pihak harus siap bahu-membahu. Karena, bencana tak hanya menghancurkan, tapi juga menguji kemampuan manusia dalam beradaptasi dan bertahan.
Secara keseluruhan, Mualem memandang bahwa bencana ini adalah pencerminan dari kelelahan Aceh dalam membangun ketahanan bencana. Dari kesedihan dan kerisauan, kita bisa mengambil insight bahwa Aceh perlu lebih memperkuat sistem logistik, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko alam. Karena bencana mungkin datang kapan saja, dan saat itu, mereka yang terlambat beraksi mungkin akan kehilangan lebih banyak lagi.