Puncak Banjir Rob Jakarta Mendekat: Siapkan Diri untuk Kekacauan Muka Air Laut?
Kota Jakarta, yang dikenal selalu siap menghadapi berbagai musibah, kembali diberi peringatan mengenai ancaman banjir rob. Tapi kali ini, ceritanya sedikit berbeda. Bukan hanya hujan lebat yang menjadi musuh, tapi kombinasi alam yang tak terduga: bulan purnama dan fase perigee. Nah, bagaimana mungkin hal sederhana seperti fase bulan bisa memicu bencana besar? Ternyata, ada permainan besar di baliknya—dan kita harus siap menghadapinya.
Kombinasi Alami yang Tak Terduga
Menurut BMKG, perigee—yaitu saat bulan berada paling dekat dengan Bumi—berbarengan dengan bulan purnama (supermoon) pada 4 Desember. Kombinasi ini menciptakan efek gravitasi yang lebih kuat, mengakibatkan kenaikan muka air laut yang signifikan.
“Kombinasi air laut pasang dan curah hujan tinggi meningkatkan risiko terjadinya genangan,”
kata Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, dalam forum High Level Meeting TPID dan TP2DD. Tapi, bukan hanya di Jakarta. Peringatan ini meliputi sejumlah kota pesisir di Indonesia, dari Sumatera hingga Maluku.
“Seperti sekarang ini, hari ini tanggal 4, dari kemarin saya sudah mendapatkan data dan saya sudah menyampaikan ke publik bahwa banjir rob akan terjadi, dan terjadi hari ini. Puncak banjir rob itu besok tanggal 5 (Desember) jam 9 pagi,”
Kutipan Pramono tersebut seolah menjadi pengingat bahwa alam tak pernah tidur. Bagaimana mungkin satu hari bisa jadi puncak bencana? Ternyata, ada ketergantungan pada titik-titik rawan yang selama ini diperkirakan. Jakarta, Kepulauan Seribu, Banten, dan Pantura Jawa Barat semuanya dalam daftar
“tuan rumah”
banjir rob. Kita harus bertanya: Apakah kita benar-benar siap menghadapi situasi ini?
Konteks yang Lebih Luas: Banjir Rob Bukan Hanya Peristiwa Kebencanaan
Menurut BMKG, banjir rob ini bukan kejadian spontan. Ia berkembang dari fenomena alam yang berulang, seperti fase bulan dan gerak air laut. Tapi, akibatnya bisa sangat menghancurkan, terutama di daerah dengan drainase yang sudah kritis. Pada periode 5-15 Desember, risiko banjir rob terutama mengintai di wilayah seperti Muara Angke, Marunda, dan sekitarnya. Kita bisa bayangkan bagaimana air bisa tiba-tiba menggenangi jalan-jalan yang biasanya kering, menimpa rumah warga, dan mengganggu aktivitas harian.
“Terutama tempat-tempat yang kita sudah prediksi banjir rob itu akan terjadi, salah satunya adalah misalnya Muara Angke, Marunda, dan sebagainya.”
Komentar Pramono mengingatkan kita bahwa banjir rob bukan hanya cuaca, tapi juga hasil dari interaksi antara alam dan tata kelola lingkungan. Mungkin kita terlalu mengandalkan drainase yang memadai, tapi alam tetap punya cara untuk mempermainkan kita. Kita harus belajar dari ini: Apakah peringatan BMKG cukup untuk memicu tindakan nyata, atau apakah masih ada yang tertinggal?
Waspadalah, Bencana Bisa Masih Mengintai
Bukan hanya tanggal 5 Desember yang penting. Pramono menegaskan bahwa ancaman banjir rob masih terus ada hingga minggu ketiga Desember. Bahkan, puncak curah hujan tinggi diperkirakan terjadi di bulan Januari.
“Banjir rob itu bisa kembali muncul, dan kita harus tetap waspada,”
jelasnya. Kita bisa mengira-ngira, bagaimana kalau tahun depan Jakarta kembali terjangan banjir rob? Apakah sistem mitigasi sudah cukup matang, atau apakah kita perlu menyusun rencana lebih jauh?
Yang menarik, persiapan kini bukan hanya untuk menghadapi banjir rob, tapi juga untuk mencermati perubahan iklim yang semakin cepat. Puncak banjir rob di Jakarta jadi cerminan bagaimana kita harus lebih bijak dalam mengelola sumber daya alam dan menghadapi tantangan masa depan. Jadi, apakah kita akan tetap memandangnya sebagai momen wajib siap, atau apakah kita akan menganggapnya sebagai kejadian biasa?