Kabar Duka dari Dunia Hukum Indonesia
Nah, siapa sangka seorang tokoh yang pernah membawa angin perubahan di dunia hukum Indonesia harus pergi? Kabar mengenaskan datang minggu lalu: Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), meninggal dunia di usia 72 tahun. Tanggal 8 November 2025 menjadi hari yang berkesan bagi banyak orang, termasuk keluarga, rekan kerja, dan masyarakat yang mengenal perjuangannya. Meninggalnya Antasari bukan hanya berita, tapi seperti kehilangan seorang pelopor dalam perang melawan korupsi.
Keluarga Ungkap Pesan Terakhir Antasari Azhar Sebelum Wafat
Boyamin Saiman, mantan kuasa hukum Antasari, menjadi saksi bisu tentang berpulangnya tokoh yang dikenal gigih ini.
“Benar, barusan saya konfirmasi kepada teman-teman dan pengurus Masjid Asy Syarif,”
ujarnya, seperti yang disampaikan dalam sebuah wawancara. Ternyata, Antasari meninggal karena sakit yang menyerangnya secara mendadak. Ia dimakamkan di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, pada hari yang sama. Pemandangan kembalinya jenazah ke tanah air pasti mengingatkan kita pada kisah perjuangannya yang tak pernah mengenal jalan mudah.
“Innalillahi wainnalillahi rojiun, Indonesia kehilangan sosok tangguh yang memiliki komitmen kuat dalam pemberantasan korupsi,”
Kata-kata Fitroh Rohcahyanto, Wakil Ketua KPK, menggambarkan bagaimana Antasari dihormati sebagai bapak perlawanan terhadap sistem korupsi. Meski telah pergi, dampaknya tetap terasa seperti angin yang membawa perubahan. Tidak hanya dalam kasus-kasus yang ia tangani, tetapi juga dalam cara ia menginspirasi generasi muda untuk tetap berani melawan kejahatan yang menggerogoti negara.
Kenangan dan Penghargaan dari Komisioner KPK
Jimly Asshiddiqie, Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri, juga memberikan penghormatan yang tulus. Ia mengenang Antasari sebagai sosok yang
“tegas, lurus, tapi ya itu ada saja kelirunya.”
Ternyata, keberhasilan Antasari dalam mengungkap kasus-kasus besar tidak lepas dari kesabaran dan ketekunan yang ia tunjukkan. Banyak yang bertanya, bagaimana seorang manusia biasa bisa menjadi simbol perlawanan korupsi? Jawabannya mungkin terletak pada tekadnya untuk tidak menyerah meski dihadapkan pada tekanan yang luar biasa.
“Kita kehilangan Pak Antasari. Saya terakhir ketemu Pak Antasari waktu masih sebelum bebas murni, masih di Tangerang. Saya tidak mengikuti perkembangannya, ternyata banyak penyakitnya padahal belum terlalu tua, baru 72,”
Analisis dari Jimly ini mengingatkan kita bahwa setiap perjuangan besar selalu mengiringi kelelahan dan kekhawatiran. Tapi, tak peduli seberapa berat tantangannya, Antasari tetap menunjukkan bahwa komitmen untuk keadilan bisa membara hingga akhir hayat. Dengan kisahnya, kita belajar bahwa keberanian bukan hanya tentang menangkap koruptor, tapi juga tentang berani menghadapi kritik dan meraih kemenangan dalam perjalanan yang panjang.