Medan Berada dalam Keadaan Darurat: Tantangan Banjir yang Memakan Korban
Nah, apakah Anda pernah membayangkan sebuah kota yang biasanya ramai dan penuh kehidupan bisa terjebak dalam kondisi darurat hanya dalam beberapa hari? Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara, tengah mengalami krisis cuaca ekstrem yang mengubah rutinitas masyarakat dan memaksa pemerintah bertindak cepat. Dari 27 November hingga 11 Desember 2025, kota ini dijuluki sebagai zona tanggap darurat bencana alam, sebuah status yang bukan hanya tentang peringatan, tapi juga pengambilan langkah pencegahan yang serius.
Mengapa Medan Dipaksa Mengambil Tindakan?
Banjir yang melanda Medan pada 27 November 2025 bukanlah kejadian kecil. Tidak hanya wilayah tertentu yang terkena, tetapi berbagai lapisan kehidupan masyarakat—dari transportasi hingga ekonomi—terganggu secara signifikan. Data dari Balai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Utara menunjukkan bahwa cuaca ekstrem berlangsung selama 5 hari sebelumnya, dengan hujan deras yang terus mengguyur daerah tersebut. Pertimbangan itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Medan memutuskan untuk memberlakukan status darurat, seperti yang diumumkan dalam Keputusan Wali Kota Medan Nomor 188.44/15.K.
“Pemkot Medan berada dalam masa kesiagaan menghadapi cuaca ekstrem, menyusul hujan deras yang terus berlangsung sejak dua hari terakhir,”
ujar Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas.
Analisis dari Pemkot Medan menunjukkan bahwa banjir ini tidak hanya mengganggu kegiatan sehari-hari, tetapi juga memperburuk kondisi sosial dan ekonomi. Transportasi lumpuh, pasar tradisional terendam, dan puluhan rumah warga tergenang air menjadi bukti nyata bagaimana bencana bisa meruntuhkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, ada warga yang terjebak di daerah terendah selama dua hari berturut-turut, seperti cerita yang viral tentang seorang istri yang terpaksa menginap di SPBU dan menumpang truk CPO untuk bertahan hidup.
Kisah Nyata: Dua Hari di Tengah Badai Banjir
Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Semua mulai dari penumpukan air hujan, saluran drainase yang tidak mampu menampung volume air, hingga faktor alam seperti topografi kota yang rendah. Seperti yang disampaikan dalam laporan BMKG, daerah seperti Medan memang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat musim hujan tiba. Namun, tingkat keparahan banjir pada November 2025 menyisakan kesan mendalam, terutama pada warga yang terkena dampak langsung.
Cerita tentang istri Mualem yang terjebak banjir menjadi cerminan bagaimana bencana bisa memaksa manusia menghadapi situasi tak terduga. Dua hari terjebak di dalam air, ia menginap di SPBU sambil menunggu cuaca membaik dan menumpang truk CPO untuk melindungi barang-barang pribadinya.
“Bahkan ketika air naik hingga lutut, kita harus terus berjuang mencari tempat yang aman,”
tulis warganet yang membagikan pengalaman itu di media sosial. Kisah ini mengingatkan kita bahwa bencana alam bukan hanya soal data dan keputusan pemerintah, tetapi juga tentang perjuangan sehari-hari manusia.
Dari Koordinasi ke Tindakan: Kesiapan Pemkot Medan
Konsep tanggap darurat bukan hanya status formal, tetapi juga kesigapan pemerintah dalam menangani krisis. Setelah peringatan dikeluarkan, Pemkot Medan segera memulai langkah mitigasi, termasuk mendirikan dapur umum dan mempercepat penanganan darurat. Rapat koordinasi bersama Forkompimda dan perangkat daerah terkait menjadi alat untuk menggarisbawahi keterlibatan seluruh pihak dalam upaya penyelamatan.
Yang menarik adalah bagaimana Pemkot Medan menyiapkan strategi yang terpadu, cepat, dan terarah. Dari desain peringatan awal hingga penyaluran bantuan, setiap langkah diambil untuk meminimalkan korban.
“Kita harus lebih siap, karena bencana bisa datang kapan saja,”
tambah Rico Waas. Dengan memperkuat sistem penanganan darurat, kota ini berharap bisa menjadi contoh kesiapan menghadapi bencana alam di masa depan.