Malam yang Gelap: Kebakaran Maut di Gedung Terra Drone
Malam itu, Jakarta Pusat berdebar dalam kepanikan. Tepat pada Selasa (9/12) siang, seorang warga menemukan asap memancar dari gedung Terra Drone, sebuah bangunan di kawasan Jakarta Pusat. Tapi, kejadian yang awalnya dianggap kecil malah berujung pada bencana yang menggerus 22 nyawa—15 perempuan dan 7 laki-laki—yang terjebak di lantai atas. Mereka tak sempat melarikan diri karena jalur evakuasi sempit, asap menggerogoti kaki, dan kekacauan yang melanda. Nah, siapa yang menjadi pelaku di balik kejadian maut ini? Jawabannya ternyata mengejutkan: sosok yang bertanggung jawab atas manajemen perusahaan, Michael Wisnu Wardhana.
Kelalaian yang Tidak Terduga
Bukan sekadar kebetulan, kebakaran ini terbongkar dari kesalahan manajemen yang terstruktur. Polisi menemukan bukti bahwa Michael dinilai lalai dalam menjamin keselamatan di gedung tersebut. Dalam jumpa pers, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susatyo Purnomo Condro menjelaskan bahwa ada kelalaian saudara tersangka.
“Ada kelalaian saudara tersangka,”
kata dia. Lalu, pertanyaan muncul: bagaimana seorang direktur utama bisa sampai melupakan aturan dasar keselamatan?
“Tidak membuat atau memastikan adanya SOP penyimpanan baterai berbahaya. Tidak menunjuk petugas K3 dan tidak melakukan pelatihan keselamatan,”
Kutipan itu seperti alarm bagi para pengelola perusahaan. Gedung yang seharusnya menjadi tempat perkantoran justru dijadikan gudang, sementara bahan mudah terbakar disimpan dalam ruangan sempit 2×2 meter tanpa ventilasi. Kombes Susatyo melanjutkan:
“Ruangan penyimpanan sempit 2×2 meter tanpa ventilasi, tanpa fireproofing. Kemudian, genset dengan potensi panas berada di area yang sama.”
Tidak hanya itu, juga tidak ada sistem proteksi kebakaran dan jalur evakuasi yang jelas. Kesalahan kecil bisa jadi maut besar, jika tak dijaga dengan baik.
Kebakaran yang Tak Terduga, Tapi Terencana
Kebakaran di Terra Drone bukanlah kejadian spontan. Polisi mengungkap bahwa api bermula dari penyimpanan baterai drone yang tidak diatur dengan baik.
“Tidak menyediakan pintu darurat dan sistem keselamatan bangunan. Tidak memastikan jalur evakuasi berfungsi,”
imbuh Kapolres. Fakta ini memicu pertanyaan retoris: bagaimana seorang direktur utama bisa melewatkan hal-hal kritis seperti itu? Konsekuensinya, sebuah kejutan besar yang menembus keheningan siang hari.
“Tidak ada pintu darurat, tidak ada sensor asap, tidak ada sistem proteksi kebakaran, tidak ada jalur evakuasi, gedung memiliki IMB (izin mendirikan bangunan) dan SLF (sertifikat laik fungsi) untuk perkantoran namun digunakan juga sebagai tempat penyimpanan atau gudang,”
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, menambahkan bahwa salah satu karyawan harus berjalan dari lantai ke lantai untuk mengumumkan kebakaran.
“Alarm kebakaran juga berdasarkan keterangan saksi tidak ada. Jadi, itu yang tahu kebakaran karena ketika sudah terbakar di bawah, ada yang lari ke atas sambil memberi tahu bahwa ada kebakaran,”
katanya. Kebakaran yang terjadi di gedung ini seperti sebuah tragedi yang terencana—dari penyimpanan baterai hingga penggunaan bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukan. Kini, Michael Wisnu Wardhana terancam penjara seumur hidup. Tapi, apakah ini cukup untuk menghukum kesalahan yang terjadi?
Kesimpulan: Kecelakaan yang Menyala
Kebakaran Terra Drone bukan hanya soal kebetulan, tapi juga kegagalan sistem manajemen yang kritis. Dari SOP penyimpanan baterai hingga proteksi kebakaran, semua tali yang menggantung di atas kepalanya. Pernyataan polisi mengingatkan kita bahwa kecelakaan besar bisa terjadi dari kesalahan yang terlihat kecil—terutama jika dianggap remeh oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Nah, pertanyaannya adalah: apakah kita siap mengambil pelajaran dari tragedi ini, atau hanya terpaku pada penyebab utama tanpa melihat akar masalahnya?