**Tangkap Tindak Ujaran Kebencian, Streamer Resbob Jadi Sorotan**
Nah, siapa sangka seorang streamer yang sehari-hari tampil santai di YouTube bisa jadi bahan perdebatan masyarakat? Ternyata, Resbob alias AF, yang dikenal dengan konten kocaknya, kini menjadi korban dari kisah paling tidak terduga—dia ditangkap oleh Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Barat setelah bersembunyi di sebuah desa di Semarang, Jawa Tengah. Bagaimana bisa seorang penyiar online yang biasa bermain dengan wajah ceria tiba-tiba terlibat kasus hukum yang serius? Let’s uncover the story.
**Dari Siaran Langsung ke Penyiar Kebencian**
Awalnya, AF dikenal sebagai sosok yang menyenangkan karena menghadirkan humor dalam tayangan live streaming-nya. Tapi, perlahan-lahan, ujaran kebencian yang dia lontarkan di akun YouTube-nya mulai mengundang perhatian. Tidak hanya itu, konten-konten yang menyinggung suku Sunda dan komunitas suporter Viking, Persib Bandung, justru memicu emosi banyak orang. Bukan sekadar canda, tapi AF dianggap menyebarkan kebencian yang bisa memecah kerukunan masyarakat. Kini, ia dihadapkan pada sanksi hukum yang bisa menggantungkan masa depannya.
“Ditangkap di desa-desa, ya enggak di rumah, bersembunyi, berupaya untuk bersembunyi,”
kata Dirres Siber Polda Jabar Kombes Resza.
Kata-kata Kombes Resza itu seolah memetik jantung penonton. Bersembunyi di desa, justru membuat proses penangkapan memakan waktu berhari-hari. AF duga menghindari petugas dengan berpindah-pindah kota, tapi akhirnya keberhasilan petugas penyidik membuatnya tak bisa lari lagi. Siapa sangka, di balik wajah seram itu, ada seorang penyiar yang selama ini terkesan ramah?
**Kasus yang Menyala: Dari Laporan hingga Penyidikan**
Kasus AF bukan bermula dari kebetulan. Diberitakan Kompas.com pada 12 Desember 2025, ia sudah diadukan oleh sejumlah organisasi masyarakat (ormas) karena ujaran kebencian yang dianggap merusak harmoni sosial. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan yang menyedot perhatian banyak pihak. Terlebih, berbagai komentar dari masyarakat pun memicu emosi, dengan beberapa yang menyebut tindakan AF sudah
“melewati batas”
.
“Soal pemuda yang menghina suku Sunda, saya sebagai orang Sunda merasa sangat terhina dan sangat marah,”
kata Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan.
Kata-kata Erwan itu jadi penegas bahwa kasus ini tidak hanya sekadar urusan internal, tapi berkaitan dengan identitas budaya masyarakat Jawa Barat. Bagaimana mungkin seorang streamer bisa dengan mudah menyebarkan kebencian tanpa sadar? Mungkin ini jadi pelajaran bahwa dunia digital tidak selalu bersih dari konflik.
**Pertanyaan yang Terus Berlanjut: Siapa yang Benar-Benar Bersalah?**
Yang menarik, Alvin Lim, pengacara AF, justru ikut menjadi tersangka dalam kasus ini. Ternyata, ia dituduh melibatkan diri dalam penyiaran ujaran kebencian yang menimbulkan dampak luas. Apakah ini tanda bahwa penyiar dan pengacara bisa sama-sama menjadi korban kebencian? Atau justru pertanda bahwa kebencian bisa menyebar ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk profesi yang dianggap
“penuh kepercayaan”
?
Kasus ini juga memicu diskusi tentang tanggung jawab digital. Di era di mana informasi bisa menyebar cepat, siapa yang siap menjaga bahasa yang digunakan? AF dan timnya mungkin berpikir mereka hanya bermain-main, tapi dampaknya bisa mengubah persepsi masyarakat selama berbulan-bulan. Akhirnya, penangkapan menjadi titik balik dari kisahnya.