Presiden Prabowo Tinjau Pengungsian di Sumatra: Janji Pengadaan Perumahan dan Perbaikan Infrastruktur
Setelah kembali dari perjalanan ke Pakistan dan Rusia, Presiden Prabowo Subianto langsung melanjutkan perhatiannya ke tanah air. Ia memilih Sumatra, kawasan yang masih berjuang mengatasi dampak bencana besar, sebagai tempat pertama untuk meninjau kondisi para pengungsi. Langkat, Takengon, Bener Meriah, hingga Aceh Tamiang—beberapa daerah terpencil yang terkena musibah—justru menjadi saksi bisik dari kepedulian sang kepala negara. Tapi, ada yang menarik: di balik kehangatan sambutan masyarakat, Prabowo menyampaikan janji yang tak kalah mengejutkan.
Bencana Sumatra: Tantangan yang Masih Terasa
Keberlanjutan menjadi kunci utama dalam pemulihan, kata Prabowo. Ia mengunjungi posko pengungsian di Desa Pekubuan, Kecamatan Tanjung Pura, Sumatera Utara, untuk menegaskan komitmen pemerintahannya. Tapi, seperti yang terjadi di kebanyakan bencana besar, tidak semua tantangan bisa diatasi dalam semalam. Wilayah yang tergenang air, rusaknya jaringan listrik, dan kesulitan akses ke layanan dasar menjadi sorotan utama.
“Saya kira rakyat masih tegar, sabar, saya disambut dengan sangat baik, dan kita sudah merencanakan alokasi perumahan dan sebagainya,”
Kata-kata Prabowo mungkin terdengar seperti mantra keberhasilan, tapi di baliknya ada fakta yang tak bisa dipungkiri: banyak pengungsi masih berharap kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Ternyata, sejumlah wilayah di Sumatra masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dan listrik. Prabowo pun langsung menanggapi dengan langkah nyata, meski dengan sedikit kesabaran.
Kendala Listrik:
“InsyaAllah 1 Minggu, Jangan Berharap Terlalu Banyak”
“InsyaAllah 1 Minggu, Jangan Berharap Terlalu Banyak”
Meski pemerintah menyatakan akan memperbaiki infrastruktur, Prabowo justru memberi gambaran realistis mengenai perbaikan listrik. Ia mengakui bahwa menara-menara yang rusak dan genangan air masih menghalangi upaya penyediaan daya listrik.
“Pasti masalah listrik ada. Tidak secepat yang kita harapkan, karena kondisi fisik dan kondisi-kondisi alam yang masih kita atasi,”
“Menara-menara itu sangat berat, kemudian kendala-kendala sebagian masih banjir, sehingga kabel-kabel tidak bisa tembus. Tapi insyaallah kita harapkan ya mungkin 1 minggu ya, mudah-mudahan ya, tapi jangan terlalu berharap,”
Janji satu minggu itu memang terdengar ringan, tapi dalam konteks bencana yang memakan korban besar, waktu bisa terasa begitu berat. Prabowo pun menyampaikan bahwa semua tim akan dikerahkan ke lokasi, tapi kecepatan perbaikan tergantung pada kondisi yang masih memburuk.
Perumahan dan Air Bersih: Janji yang Menggembirakan
Di tengah kesulitan mengatasi listrik, Prabowo justru menyampaikan rencana perumahan untuk para pengungsi. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya akan mengalokasikan tempat tinggal bagi korban bencana, meski detailnya masih dalam proses.
“Saya sudah katakan berkali-kali, saya tidak punya tongkat Nabi Musa, tapi semua bekerja keras,”
“Baik, saya datang melihat keadaan, nanti kekurangan-kekurangan sudah dilaporkan kepada saya, segera kita atasi. Tadi dilaporkan oleh Gubernur kekurangan air bersih, air minum,”
Janji tersebut menjadi penyemangat bagi masyarakat yang masih bertahan di tenda-tenda sementara. Meski Prabowo menyebut dirinya tidak memiliki kekuatan ajaib seperti Nabi Musa, komitmennya menunjukkan bahwa pemerintah tetap berupaya memenuhi kebutuhan mereka, meski dengan jadwal yang mungkin terasa lambat.
Keberlanjutan pembangunan bukan hanya soal perumahan atau listrik, tapi juga tentang kemampuan pemerintah menyesuaikan rencana dengan kondisi nyata. Dalam perjalanan ini, Prabowo memperlihatkan bahwa ia tak hanya berbicara tentang janji, tapi juga berusaha mengubahnya menjadi tindakan. Bagi masyarakat yang terdampak, itu mungkin satu langkah kecil, tapi untuk masa depan yang lebih baik, itu adalah awal yang menggembirakan.