Pemprov DKI Jakarta Sedang Memulai Perubahan Besar di Jalan Rasuna Said
Nah, berita ini bisa jadi mengagetkan! Setelah bertahun-tahun menjadi pusat perdebatan, Pemprov DKI Jakarta akhirnya mengambil langkah nyata untuk membersihkan ruang publik yang sempit di Jalan Rasuna Said. Proyek pembongkaran tiang monorel yang mangkrak ini ternyata bukan hanya soal kebersihan, tapi juga tentang transformasi kota yang lebih modern dan terorganisir. Sejak dulu, tiang monorel yang menjorok ke jalan itu sering dianggap sebagai
“sisa karya”
dari proyek transportasi yang belum rampung. Tapi sekarang, seluruh proses akan dimulai dari awal—dan Januari 2026 jadi waktu penentuan.
Proses Pemindahan Tiang Monorel Masuk Kalender 2026
Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang dilaporkan oleh staf khususnya Chico Hakim menjadi penjelasan resmi.
“Mengenai rencana pencabutan tiang monorel khususnya di kawasan Jalan HR Rasuna Said, berdasarkan pernyataan terbaru dari Gubernur Pramono Anung pada 19 Desember 2025, pembongkaran dan perbaikan dijadwalkan mulai Januari 2026,”
ujarnya. Berita ini segera menjadi topik hangat di media sosial, karena akhirnya Pemprov DKI berani mengambil keputusan yang selama ini terkesan membingungkan.
“Beliau menyampaikan bahwa persoalan hukum terkait tiang tersebut sudah selesai, sehingga Pemprov DKI bisa melanjutkan eksekusi,”
tambah Chico. Pemprov juga sudah berkoordinasi dengan PT Adhi Karya sebagai pihak terkait, dan jika diperlukan, siap mengambil alih pembongkaran.
“
Analisis dari Chico memberi gambaran bahwa langkah ini bukan spontan, tapi hasil kesepakatan yang matang. Dengan pemecahan hukum, Pemprov DKI bisa fokus pada pembersihan fisik dan rencana revitalisasi ruang terbuka. Pertanyaannya, apakah ini tanda akhir dari proyek monorel yang selama ini dianggap “
tak terwujud” atau hanya tanda awal dari perubahan besar yang bisa jadi mulai terlihat?
Kemitraan dengan PT Adhi Karya: Strategi untuk Mempercepat Proses
Koordinasi dengan PT Adhi Karya menjadi kunci sukses dari rencana ini. Perusahaan penyedia jasa konstruksi ternama itu pasti memiliki pengalaman dalam menangani proyek besar dan mungkin bisa memberikan solusi yang lebih efektif. Chico juga menyebut bahwa target pencabutan tiang monorel akan rampung dalam tahun yang sama, 2026, yang artinya seluruh proses diproyeksikan selesai dalam waktu 12 bulan. Ini tentu memperkuat harapan warga Jakarta bahwa kota akan semakin rapi.
Yang menarik, tiang monorel yang dicabut akan didaur ulang. Langkah ini bukan hanya untuk menghemat biaya, tapi juga memberikan makna baru—saat tiang yang sempat menjadi hambatan justru diubah menjadi bagian dari lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan begitu, keputusan Pemprov DKI tak hanya tentang perbaikan fisik, tapi juga filosofi pengelolaan sumber daya yang lebih bijak.
Implikasi Lebih Luas: Membuka Ruang untuk Infrastruktur Baru
Bukan hanya mengangkat kemacetan di Jalan Rasuna Said, rencana ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat akses transportasi sekitar JIS (Jalan I Gusti Ngurah Rai – Sutomo). Pemprov DKI menginginkan kawasan tersebut tidak hanya lebih nyaman untuk masyarakat, tapi juga bisa menjadi pintu masuk strategis untuk pengembangan kota. Apakah ini akan menyelesaikan masalah transportasi Jakarta, atau hanya akan mengubah penampilan saja?
Januari 2026 menjadi momen penting untuk memulai proses transisi. Warga Jakarta bisa menantikan perubahan fisik yang nyata, sekaligus mengukur apakah keterlibatan PT Adhi Karya akan membawa hasil yang lebih optimal. Pemprov DKI mungkin sedang memperlihatkan keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan data, bukan hanya keinginan politik. Tak hanya itu, keberhasilan pembongkaran tiang monorel ini juga akan menjadi langkah awal untuk proyek-proyek infrastruktur lain yang menanti di tahun 2026.