Ada Teman yang Berwajah Dua, Uya Kuya: Viral Bukan Jadi Alasan untuk Menghujat
Nah, ada hal yang memang membuat banyak orang merasa bingung. Tiba-tiba, seorang publik figur yang dulu sering menawarkan bantuan kepada orang lain justru menjadi korban sindiran dan hujatan. Uya Kuya, pelawak sekaligus anggota DPR, baru saja mengungkap kekecewaannya saat kasus video jogetnya yang viral memicu reaksi berbeda dari teman-temannya. Tapi, apa yang terjadi justru lebih mengejutkan dari yang dibayangkan.
“Yang Kecewa Adalah Orang-orang yang Tahu Gue”
Dalam wawancara di *Curhat Bang Denny Sumargo*, Uya mengungkapkan emosinya dengan tegas. Ia merasa kecewa karena orang-orang yang dekat dengannya, yang sebenarnya paham kondisi dirinya, justru ikut menyalahkan di akun media sosial orang lain.
“Yang kecewa adalah orang-orang yang kenal gue, orang-orang yang tahu gue, justru malah ikut menghujat,”
kata Uya. Kebiasaan ini, menurutnya, seperti mengikuti arus tanpa memikirkan dampaknya.
“Yang kecewa adalah orang-orang yang kenal gue, orang-orang yang tahu gue, justru malah ikut menghujat,”
ungkap Uya di *Curhat Bang Denny Sumargo*, dikutip Selasa (11/11/2025).
Ternyata, kekecewaan Uya bukan hanya dari komentar netizen, tapi juga dari sikap teman-temannya yang sepertinya
“menyerang tapi bukan di akun gue, di akun-akun orang, numpang di akun orang,”
sambungnya. Ini membuatnya merasa seperti disalahkan secara tidak langsung, meski mereka sebenarnya ingin membela atau menunjukkan empati.
“Tapi di guenya baik, ‘turut prihatin,’ diluarnya komentar,”
tambahnya. Kekacauan ini memperlihatkan bagaimana viral bisa memperbesar konflik, bahkan di antara yang terdekat.
Menyerang, tapi Bukan di Akun Sendiri
Yang menarik, Uya justru memaklumi keadaan tersebut. Ia mengakui, mungkin teman-temannya merasa takut jika langsung membela di depan publik.
“Gue ngerti kalau ada temen-temen gue yang pada saat itu diam, mendingan diam,”
katanya. Tapi, keputusan diam itu tak selalu mengartikan kesalahannya.
“Karena pada saat itu, siapa pun yang membela gue, atau ucapin prihatin aja diserang,”
lanjut Uya. Ini seperti menggambarkan bagaimana tekanan publik bisa membuat seseorang
“berlindung”
di belakang.
Sementara itu, Uya pun mengungkapkan bahwa ia sendiri sudah meminta teman-temannya untuk tak terlalu
“muncul”
di depan umum.
“Gue sendiri yang meminta mereka agar tidak membela di depan umum,”
katanya. Tapi, keputusan itu justru memicu perasaan bahwa mereka
“tidak loyal”
atau
“tidak peduli”
dengan kondisi Uya. Bahkan, beberapa orang yang pernah dibantunya, seperti Nafa Urbach dan Eko Patrio, pun terlibat dalam kekacauan ini.
“Itu diserang sampai anaknya dikatain,”
sesal Uya.
Menurut Uya, kasus ini membuktikan bahwa viral bisa mengubah segalanya, termasuk sikap orang-orang terdekat. Ia mengatakan, ada orang yang mengira dirinya
“berwajah dua”
karena sikapnya yang terlihat berubah. Padahal, sebenarnya Uya masih berusaha menjaga harmoni.
“Beda nasib dari Nafa Urbach dan Eko Patrio, Uya Kuya diputus tak langgar kode etik,”
pungkasnya. Pemutusan ini, kata Uya, justru menunjukkan bahwa ia tetap dianggap layak menjadi anggota DPR.
Menang di MKD, Tapi Kalah di Muka Umum
Setelah diputus tidak bersalah oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR, Uya bisa kembali aktif sebagai anggota dewan. Tapi, menurutnya, menang di MKD tidak selalu artinya menang di hati publik.
“Dengan diputuskan tidak bersalah, Uya Kuya bisa kembali aktif sebagai anggota DPR,”
ujarnya. Tapi, bagaimana ia bisa mengembalikan kesan yang sudah terbentuk selama ini?
Kasus ini, menurut Uya, juga menjadi cerminan tentang betapa cepatnya keadaan bisa berubah.
“Jadi, kasus kecil bisa jadi besar, dan orang yang awalnya mendukung bisa jadi penentang,”
pungkasnya. Meski akhirnya dinyatakan tidak bersalah, ia tetap merasa bahwa kehidupan politik kini dihiasi dengan emosi yang bisa meledak kapan saja. Tak peduli bagaimana orang itu berusaha tulus, di dunia media sosial,
“wajah dua”
seringkali jadi bahan untuk dihujat.