Kisah Cari Kedua Orangtua: Betty Trifena Ritonga di Tengah Bencana Banjir Tapteng
Di tengah hujan deras yang mengguyur Sumatera Utara, satu keluarga kecil di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, tengah mengalami kekhawatiran yang tak terucap. Betty Trifena Ritonga, seorang remaja berusia 17 tahun, menjadi korban bencana alam yang memutuskan kontak dengan orangtuanya. Membawa harapan dalam hati, ia mengunggah pesan ke akun Instagram @bettytrifena, memohon bantuan siapa pun untuk menemukan ayah dan ibunya yang terjebak di daerah terparah. Namun, hingga hari ini, keberadaan kedua orangtuanya masih menjadi misteri.
Banjir dan Longsor yang Menyapu Segala Sesuatu
Banjir dan longsor di Tapanuli Tengah memang tidak hanya merusak infrastruktur, tapi juga mengguncang kehidupan sehari-hari warga. Kelurahan Hutanabolon, yang terletak di Lingkungan 4, menjadi salah satu area paling parah terdampak. Pasir, batu, dan air mengalir deras menghancurkan rumah-rumah, membuat warga terpaksa mengungsi ke Sigiring-giring. Nah, Betty yang tinggal di lorong IV itu pun kehilangan hubungan dengan keluarganya—ada yang terjebak, ada yang hilang kontak, dan ada yang justru tak kunjung terdengar.
“Tapi, saat itu yang di rumah kakakku, abangku David, tidak di rumah karena lagi mau jemput mamak bapak di GPdI Hutanabolon, Kelurahan Hutanabolon, Lorong IV,”
Kata Betty saat dihubungi Kompas.com Rabu (26/11/2025) malam, David sempat berusaha menjemput orangtuanya. Tapi, jalan ke rumah ayah dan ibunya terputus karena banjir di Tukka Sigotom. Dua jam setelah kejadian, David kembali ke rumah, meminta Betty mencoba menghubungi warga kampung atau tetangga untuk menginformasikan keberadaan orangtuanya. Tapi, keberadaan mereka masih menjadi tanda tanya.
Pesan Terakhir di Pagi Hari: Harapan yang Terputus
Selasa (25/11/2025) pagi, Betty berusaha menghubungi ibunya, tetapi telepon tak kunjung diangkat. Dua menit kemudian, ia balik menghubungi, tapi kembali tidak ada repons.
“Minta tolong kami sekeluarga,”
katanya sambil mengunggah video di Instagram. Pesan itu seolah menjadi harapan terakhir sebelum komunikasi benar-benar terputus. Dalam beberapa jam, 50 warga Tapteng pun telah kehilangan kontak dengan keluarga mereka, terutama mereka yang terjebak dalam banjir bandang.
“Kata tetangga ga ada di pengungsian,”
Kata Betty, kekhawatiran semakin bertambah ketika ia menemukan tetangga tidak memberi informasi tentang keberadaan orangtuanya. Membaca dari satu aplikasi ke aplikasi lain, ia merasa seperti terjebak dalam misteri yang tak kunjung terpecahkan. Pasar digital dan media sosial justru menjadi tempat penyebaran berita, tapi bagi Betty, mereka hanya berupa cahaya yang tak bisa menerangi kegelapan keluarganya.
Dalam tengah kekacauan, Betty tetap berusaha mencari celah. Ia menanyakan ke warga sekitar, mengecek siaran langsung di Facebook dan TikTok, tapi semua upaya seolah tak mendapat hasil. Kehilangan kontak dengan orangtuanya, yang menjadi pusat kehidupan dan kebahagiaan, membuatnya merasa dunia seolah berhenti. Nah, kisah ini tidak hanya tentang banjir, tapi juga tentang rasa takut, harapan, dan kekuatan untuk terus mencari.