Kabut dan Air yang Tak Berkesudah
Dalam hujan deras yang mengguyur Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sebuah kisah sedih mulai terungkap. Betty Trifena Ritonga, seorang remaja yang masih menganggur, terjebak dalam perasaan takut dan pusing saat menunggu kabar dari orang tua yang tak kunjung bisa dihubungi. Berjam-jam ia duduk di depan layar ponsel, menelpon dan menelpon, tapi hanya suara gencang yang memecah keheningan. Saat itu, ia berharap bisa menemukan ayah dan ibunya di antara ratusan warga yang terdampak banjir dan longsor di Lingkungan 4, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka. Namun, air dan kabut yang menghimpit wilayah itu justru semakin menyulitkan perjalanan Betty ke arah yang tak pasti.
Kutipan yang Tak Terdengar
Sekitar pukul 08.42 WIB, Betty menerima panggilan dari ibunya, tapi tidak terangkat. Dua menit kemudian, ia mencoba kembali, tapi tak ada repons. Dalam keadaan darurat, ia menulis pesan di Instagram:
“Tolong siapa pun yang bisa carikan bapak mama aku di GPDi Hutanabolon Kec. Tukka Tapanuli Tengah. Dari pagi gak bisa dihubungi dan kata tetangga ga ada di pengungsian. minta tolong kami sekeluarga”
. Pesan itu seolah menjadi seruan terakhir dari keluarga yang kehilangan jejak di tengah badai alam.
“Tapi, saat itu yang di rumah kakakku, abangku David, tidak di rumah karena lagi mau jemput mamak bapak di GPdI Hutanabolon, Kelurahan Hutanabolon, Lorong IV,”
Kutipan dari Betty itu menggambarkan kecemasan yang melilitnya. Meski tetangga menyatakan ayah dan ibunya tidak ada di pengungsian, Betty tetap merasa tidak aman. Ia menunggu, mencari, dan berharap, tapi semua hanya menyisakan rasa kehilangan. Ternyata, hari itu menjadi hari yang berbeda bagi keluarganya—hari dimana kontak terputus, dan kehidupan sehari-hari terguncang oleh kekuatan alam yang tak terduga.
Penyelaman di Kalbu dan Medan
Betty tak berhenti mencari. Ia menghubungi dua kakaknya, Ivana dan Iin, yang tinggal di daerah aman. Tapi kisahnya belum berakhir. Saat David pulang dari jemput mamak bapak, ia menyuruh Betty untuk menelpon tetangga-tetangga yang mungkin tahu keberadaan orang tuanya.
“Karena dia tidak bisa menjemput ayah dan ibunya,”
kata David dalam percakapan dengan Kompas.com. Maka, Betty terus bergerak, mencari petunjuk di setiap sudut lingkungan yang hampir tenggelam. Tak satu pun jawaban yang jelas, hanya angin dan air yang mengalir.
Konteks Banjir yang Masih Menggelayuti
Banjir di Tapanuli Tengah bukan sekadar peristiwa musiman. Ia menjadi pengingat bagi masyarakat akan kekuatan alam yang bisa menghancurkan segalanya dalam hitungan menit. Dalam kesedihan Betty, kita bisa melihat bayangan ratusan warga lainnya yang tenggelam dalam kisah serupa—kehilangan tempat tinggal, kehilangan hubungan, dan kehilangan harapan. Tapi di tengah keterpurukan itu, ada cahaya kecil: kepedulian tetangga dan keluarga yang tak berhenti mencari.
Kisah Betty seolah menjadi cerminan dari perjuangan umum masyarakat Tapanuli Tengah. Mereka tak hanya bertahan hidup, tapi juga mencari keberadaan orang-orang terdekat mereka. Sebuah perjalanan yang penuh dengan harapan, takut, dan keberanian. Dan mungkin, di balik kabut itu, keberadaan ayah dan ibunya pun sedang menunggu, dengan harapan bisa segera bertemu kembali.