SMA Negeri 72 Kelapa Gading: Kegiatan Belajar Berubah Jadi Online Setelah Insiden Ledakan
Hening menyelimuti SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (10/10/2025) pagi. Di bagian depan sekolah, aparat TNI masih berjaga dengan serius, sementara gerbang ditutup rapat untuk mengamankan area. Namun, di luar lingkaran tersebut, suasana kembali normal. Jalan-jalan yang sebelumnya diblokade untuk menghindari risiko serangan kini terbuka kembali, memungkinkan kendaraan melintas bebas. Di dekat lokasi, mini bus milik Psikologi Kepolisian terparkir, seolah menunggu siapa yang akan berangkat ke rehabilitasi mental.
Nah, cerita ini justru dimulai dari seorang siswa yang dulu menyambut hari Senin biasanya dengan senyuman di wajah. Kini, mereka menyambut hari dengan layar laptop dan koneksi internet. “Sekarang belajar di rumah saja, tapi kita masih bisa ngobrol via Zoom,” ujar Dika, seorang siswa kelas 10, sambil menunjukkan ponselnya yang terus menerus berbunyi. Insiden ledakan yang terjadi Jumat (7/11) lalu tidak hanya mengubah suasana sekolah, tapi juga kebiasaan belajar mereka. Seluruh KBM digeser ke daring, sebagaimana pernyataan resmi dari pihak Pemprov DKI Jakarta.
Yang menarik, keputusan ini bukan sekadar kebijakan darurat, tapi juga pengakuan bahwa psikologis siswa perlu diperhatikan.
“Anak-anak butuh ruang untuk pulih, tapi juga tetap terhubung dengan lingkungan belajar,”
tambah Dika, sebelum berpamit ke kelas online yang akan dimulai pukul 08.00 WIB. Meski jaringan internet terkadang tidak stabil, semangat mereka tetap tak tergoyahkan.
Pengamanan dan Sterilisasi yang Tak Pernah Berhenti
Pada hari pertama kegiatan belajar daring, keberadaan aparat kepolisian masih sangat terasa. Di depan gerbang, petugas terus mengawasi setiap kendaraan yang masuk dan keluar. Tak hanya itu, di dalam ruangan, beberapa guru ditemukan berpakaian batik korpri, seolah ingin memberikan kepercayaan kepada siswa bahwa tempat belajar tetap aman.
“Kami berusaha memastikan proses belajar tetap berjalan meski sedikit berbeda,”
kata Ibu Rini, seorang guru mata pelajaran sejarah, sambil menunjukkan buku catatan yang kini dipakai secara virtual.
Di satu sudut sekolah, seorang PNS Pemprov DKI masuk sambil membawa tas kerja. Ia diberi wewenang untuk memantau kondisi lingkungan sebelum kembali digunakan.
“Kami juga perlu mengecek keberadaan siswa yang masih trauma,”
katanya sambil berjalan perlahan. Sementara itu, di luar sekolah, suara anak-anak yang bermain di taman kecil tetap terdengar, seolah menunjukkan bahwa kehidupan tetap berjalan meski dalam kondisi khusus.
Kutipan dari Pemimpin Proyek KBM Daring
“Kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan secara daring (online) mulai Senin, 10 November 2025,”
ujar Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, saat dimintai konfirmasi, Minggu (9/11). Pernyataan itu menandai komitmen pemerintah untuk memastikan pendidikan tetap berjalan meski sekolah belum sepenuhnya aman. Chico juga menjelaskan bahwa KBM daring akan terus berlangsung hingga kondisi sekolah dinyatakan siap kembali digunakan.
“(KBM daring) hingga kondisi sekolah telah dinyatakan dapat digunakan kembali. Hingga hari ini, lokasi SMAN 72 masih dalam proses pengamanan dan sterilisasi oleh pihak kepolisian,”
jelas Chico.
Analisis dari Chico menggarisbawahi bahwa keamanan sekolah adalah prioritas utama. Meski KBM daring memerlukan adaptasi, hal ini dianggap sebagai solusi jangka pendek untuk meminimalkan risiko kembali terjadi.
“Kita tidak ingin siswa merasa terisolasi secara fisik, tapi juga terjaga secara mental,”
tambahnya.
Konteks Lebih Luas: Pengaruh Insiden pada Kebijakan Pendidikan
Tidak hanya sekadar mengubah cara belajar, insiden ledakan ini juga memicu perubahan kebijakan di tingkat nasional. Komisioner KPAI Diyah Puspitarini memberikan penjelasan bahwa KBM daring akan berlangsung sambil memantau kondisi psikologis siswa.
“Mulai minggu depan (Senin), anak-anak tetap belajar, walaupun sementara secara online. Tetapi nanti akan dilihat selanjutnya karena anak-anak mendapatkan pendampingan psikososial dulu,”
katanya.
Analisis Diyah menunjukkan bahwa kejadian ini mengingatkan kita betapa rentannya generasi muda terhadap trauma. “Belajar daring adalah jembatan sementara, tapi kita juga harus memastikan mereka tidak kehilangan kontak sosial,” tambahnya. Dari sini, muncul pertanyaan: Apakah KBM daring akan menjadi tren jangka panjang, atau hanya kebijakan darurat?
Insiden ini juga memengaruhi kebijakan pemerintah. Setelah ledakan, pihak berwenang memutuskan untuk membatasi akses ke game PUBG, yang dituduh sebagai
“penyebab kecanduan”
dan
“rentan menjadi target serangan”
. Namun, keputusan ini justru menimbulkan polemik: Apakah game online harus dibatasi, atau justru menjadi alat untuk menghibur siswa yang sedang trauma?
Insight: Keseimbangan Antara Keselamatan dan Pendidikan
Sebuah pertanyaan retoris yang bisa diangkat adalah: Apakah KBM daring bisa menjadi solusi terbaik, atau hanya sekadar pembatasan sementara? Mungkin jawabannya tergantung pada kondisi masing-masing sekolah dan siswa. Tapi yang jelas, insiden SMAN 72 mengajarkan kita bahwa pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan, tapi juga tentang kenyamanan dan keamanan.
Terlepas dari keterbatasan fisik, semangat belajar siswa tetap terjaga. Di luar sekolah, anak-anak tetap bermain dan bercerita, sementara di dalam, mereka mencari kekuatan untuk melanjutkan proses belajar. “Sekolah itu bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat mengingatkan kita bahwa hidup terus berjalan,” tutur Dika. Dan itulah yang terus berlangsung, satu langkah demi satu langkah, meski dalam kondisi yang berbeda.